Blog ini hanya sekedar sampah, tulisan sinting, ide gila, coretan belepotan yang ditulis oleh seorang gadis berotak miring yang ngakunya nge-rock tapi ternyata gak lebih sekedar gadis lebai dan cengeng.. d a y e n d - r o c k z - d a y e n d - r o c k z - d a y e n d - r o c k z
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Tuesday, August 25, 2009

Mengenal Kepribadian Pria dan Wanita (Cerita)

Sebuah cerita (John Gray)…

Seminggu setelah Lauren, puteri kami lahir, Bonnie istri saya dan saya lelah sekali. Setaip malam Lauren terus-menerus membuat kami terjaga. Sewaktu melahirkan, Bonnie mengalami luka persalinan dan harus minum obat penghilang rasa sakit. Ia hampir tak dapat berjalan. Setelah lima hari tinggal di rumah untuk memberikan pertolongan, saya kembali bekerja. Ia tampaknya sudah lebih baik.

Sementara saya tidak di rumah, ia kehabisan pil penghilang rasa sakit. Bukannya menelepon saya ke kantor, ia meminta salah seorang saudara saya yang sedang berkunjung untuk membelikan pil. Tetapi saudara saya yang tidak pulang dengan pil-pil itu. Akhirnya Bonnie menghabiskan seluruh hari itu dalam kesakitan, sambil merawat bayi yang baru lahir.

Saya sama sekali tidak tahu bahwa harinya begitu tidak menyenangkan. Ketika saya pulang ke rumah, ia sangat marah. Saya keliru menafsirkan penyebab kemarahan itu dan mengira bahwa ia menyalahkan saya.

Ia berkata, “Aku kesakitan sepanjang hari. Aku kehabisan pil. Aku menggelepar di tempat tidur dan tak ada yang peduli!”

Saya berkata untuk membela diri, “Kenapa kau tidak meneleponku?”

Ia berkata, “Aku meminta kakakmu, tapi dia lupa! Aku menunggunya sepanjang hari. Aku mesti bagaimana? Aku hampir tak bisa berjalan. Aku merasa begitu dilupakan!”

Pada saat itu saya marah besar. Sekring saya begitu pendek hari itu. Saya marah besar bahwa ia menyalahkan saya, padahal saya tidak tahu ia kesakitan. Setelah saling mengumpat dengan kata-kata kasar, saya pergi ke pintu. Saya lelah sekali, mudah marah, dan telah jenuh mendengarnya. Kami berdua telah mencapai batas-batas kami.

Kemudian sesuatu terjadi – seuatu yang akan mengubah hidup saya.

Bonnie berkata, “Stop, jangan pergi. Aku sangat membutuhkanmu. Aku kesakitan. Berhari-hari aku tak bisa tidur. Tolong dengarkan aku.”

Saya berhenti sejenak untuk mendengarkan.

Ia berkata, “John Gray, kau cuma sahabat di kala senang! Sepanjang aku bermanis-manis, menjadi Bonnie yang penuh kasih saying, kau mau mendampingiku, tapi waktu aku tidak seperti itu, kau langsung ingin pergi.”

Kemudian ia berhenti, matanya berkaca-kaca. Nadanya berubah ketida ia berkata, “Sekarang ini aku kesakitan. Aku tak punya apapun untuk diberikan. Inilah saatnya aku sangat membutuhkanmu. Tolonglah, mendekatlah kemari dan peluklah aku. Kau tak usah mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin kau peluk. Kumohon jangan pergi.”

Saya menghampirinya dan memeluknya dalam diam. Ia menangis dalam pelukan saya. Setelah beberapa menit, ia mengucapkan terima kasih karena saya tidak pergi. Ia mengatakan pada saya bahwa ia Cuma ingin merasakan pelukan saya.

Pada saat itu saya mulai menyadari makna cinta sesungguhnya – cinta tanpa syarat. Selama ini saya mengganggap diri saya orang yang penuh cinta. Tetapi ia benar. Saya adalah sahabat di masa senang. Sepanjang ia bahagia dan menyenangkan, saya membalas cintanya. Tetapi kalau ia sedang tidak bahagia atau marah, saya merasa disalahkan dan kemudian melawan dan menjauhkan diri.

Man Are from Mars Women Are from Venus

Dahulu kala, orang Mars berjumpa dengan orang Venus. Mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan yang membahagiakan karena mereka saling menghormati dan menerima perbedaan-perbedaan mereka. Kemudian mereka tiba di Bumi dan mulai menderita amnesia. Mereka lupa bahwa mereka berasal dari planet yang berlainan.

Dengan kiasan ini sebagai ilustrasi pertikaian yang umum terjadi antara pria dengan wanita. Dr. John Gray menjelaskan munculnya perbedaan-perbedaan di antara kedua jenis kelamin itu dan menganggu terciptanya hubungan cinta yang saling melengkapi. Berdasarkan sukses memberi bimbingan selama bertahun-tahun terhadap pasangan suami-istri dan perorangan, ia memberi nasihat mengenai cara mengatasi perbedaan dalam gaya komunikasi, kebutuhan-kebutuhan emosional, dan cara tingkah laku untuk memajukan suatu pemahaman yang lebih besar di antara masing-masing pasangan.

Men Are from Mars, Women Are from Venus merupakan sarana untuk mengembangkan hubungan yang lebih mendalam dan lebih memuaskan.

Sunday, May 3, 2009

Cerpen`Quw untuk kaLian..

Antara Aku, Dia dan Sahabatku

Dunia ini terasa kelabu. Semenjak dia pergi meninggalkan hatiku. Hanya kehampaan yang kurasakan. Sepinya hari dalam kesendirian. Membuatku muak untuk menjalani semua rencana kehidupan. Seluruh cinta dan pengorbanan yang kulakukan untuknya hanya terbuang sia-sia.

Adhitya, seorang pria yang selama ini aku cintai membuat hatiku pilu. Dulu, ia bagaikan seorang pangeran yang mampu menjagaku dan memberikan kebahagian tak ternilai untukku. Namun kini, ia telah berlalu. Menepiskan segala harapan dan khayalanku. Hanya meninggalkan segenggam kenangan indah yang tak mampu kulupakan. Dan kepahitan janji-janji yang tak tercapaikan.

Entah sudah berapa detik, menit, bahkan berapa jam kah aku duduk didepan komputer ini. Aku masih terdiam dalam lamunanku. Memikirkan sesuatu apa yang hendak aku tulis. Begitu banyak yang ingin aku ungkapkan. Namun aku tak pernah cukup mempunyai keberanian untuk membeberkan semua uneg-uneg dalam pikiranku.

Epilog

Dulu kukira ia seorang Pangeran

Yang mampu memberikanku kebahagiaan

Dengan cinta dan kasih sayangnya

Menyejukkan setiap langkah hari-hariku

Dulu kukira ia seorang Pahlawan

Yang mampu menjagaku dari ancaman

Dengan kegagahan dan kekuatannya

Melindungi setiap cobaan menghampiriku

Dulu kukira ia seorang Pemimpin

Yang mampu menuntunku menjalani hidup

Dengan kearifan dan kebijaksanaannya

Membawa kehidupanku kejalan yang lebih baik

Tapi, kini yang kulihat…

Ia tak pernah lagi mengucapkan kata cinta untukku

Ia tak lagi membantu dalam tautan hidupku

Ia tak lagi menemaniku disaat suka maupun duka

Ia tak lagi mengusapkan tangis di kedua mataku

Ia tak lagi menuntunku

Ia tak lagi menjagaku

Bahkan ia tak pernah mau lagi tersenyum untukku

Ia tak lagi…

Tidak pernah…

* * * * * * *

Kadang aku berpikir...

Dokter memvonisku “mati”. Aku terserang penyakit kanker otak stadium lanjut. Tubuhku lemah. Pantas aku sering sakit kepala yang tak tertahankan. Kukira gejala ini hanya sekedar depresi pikiran karena masalah-masalahku yang sering aku tumpuk dikepala. Namun ternyata rasa stress itu justru tambah membuat rasa sakit ini menyebar.

Aku mulai menulis. Dan aku terus menulis. Aku tak pernah bosan melakukannya. Karena hanya seperti ini caraku mencurahkannya. Dalam selembar kertas kusam dan goresan pena, kuteruskan untuk menulis. Kulukiskan kata-kata yang tersembunyi dalam hatiku.

Kuuraikan semua kejadian tentang hidupku, tentang cintaku. Mungkin dengan cara seperti ini aku mampu memberikan kesan-kesan terakhir untuk orang-orang yang aku cintai. Menuliskan sebuah cerita tentang mereka dalam sebuah buku. Aku ingin membuat novel. Yang menceritakan kejadian-kejadian tentang diriku dan mereka yang kucintai.

Teringat kejadian di kampus tadi. Aku begitu teriris hati. Aku melihat senyum manis dari ujung mataku. Ada canda dan kebahagian dari raut wajahnya. Tapi yang aku lihat, senyum dan canda itu bukan untukku. Dia bisa tersenyum dan bersenda gurau dengan berbagai wanita, dengan semua teman-temannya. Senyum dan canda yang dulu sering ia beri untukku. Namun kini, sedikitpun tak ia tebarkan untukku. Ia begitu angkuh padaku. Entah apa alasannya memperlakukan aku seperti itu. Aku tak mengerti.

Aku masih mencintainya. Namun apakah dia pernah mengerti dan mau mengerti bahwa aku butuh dia. Hanya dalam waktu beberapa bulan ini saja. Karena aku tak tau sampai kapan aku bisa bertahan dengan penyakitku ini. Dokter saja bilang kalo paling lama aku hanya bisa bertahan 3 bulan.

Aku menahan rasa sakit dikepalaku. Tubuhku makin lemas. Aku berteriak, namun siapa yang dengar? Tak ada yang datang menemuiku. Entah pada pergi kemana sumua makhluk di kost-kostanku. Rasa sakit itu kian mencabik-cabik kepalaku. Aku terhujam jatuh kelantai. Rasanya semua benda disekitarku mulai berputar-putar. Aku berusaha bangkit. Mencoba mengambil handphoneku didalam tas. Siapa yang harus kuhubungi? Ternyata pulsaku limit. Aku terjatuh kembali. Dan merasakan kegelapan mulai menyelumuti kelopak mataku.

* * * * * * *

Kadang aku berfikir...

Mengapa aku tak mengalami amnesia saja! Agar aku mampu melupakan segala masalahku. Agar aku mampu melupakan semua kenangan indah bersama Adhitya, yang sekarang menjadi beban untukku. Karena aku tak mampu melupakan Adhitya yang telah melupakanku.

Aku berjalan menelusuri kampus bersama sahabatku, Tio, hendak mencari makan diluar kampus. Kita berencana makan batagor di depan Fakultas Teknik. Karena Tio tidak membawa motor, akhirnya kita memutuskan untuk jalan kaki saja. Untuk lebih dekat ke tempat tujuan, kita melewati jalan kecil belakang kampus.

Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Dikala kami melewati sebuah kost-kostan wanita. Didepannya ada motor Adhitya. Samar-samar kudengar mereka bercakap-cakap. Sungguh hancur hatiku, karena wanita itulah yang telah membuat pertengkaran-pertengkaran aku dengan Adhitya selama ini. Ternyata mereka masih berhubungan. Lalu aku? Apakah Adhitya akan main ke kostanku? Untuk sms dan menyapaku saja dia tidak pernah.

Apa yang terjadi Tuhan? Mengapa Engkau melakukan ini padaku? Mengapa Adhitya begitu tega padaku? Dimana cintanya selama ini? Dimana janji-janji yang ia ungkapkan dulu untukku? Janji untuk mencintaiku, janji untuk setia, janji untuk menerimaku apa adanya, dan janji untuk tanggungjawab padaku. Dimana Adhityaku yang dulu Tuhan? Apakah Adhitya benar-benar jatuh cinta pada wanita itu? Atau dia memang sengaja menyakiti perasaanku? Aku tak percaya dia tega melakukan itu padaku. Aku mulai berjalan cepat menjauhi rumah itu. Tio mengikutiku. Dia mulai mengalihkan perhatianku dan menenangkanku. Dia mencoba menghiburku. Aku berlari dan berlari semakin kencang. Tak menghiraukan berapa banyak tetes air mata yang ku keluarkan. Tio mengejarku... tapi dia terlambat. Sebuah mobil menghantam tubuhku seketika. Tio berteriak “Sella...”

Aku tak sadarkan diri hingga beberapa hari. Entah berapa banyak jarum menusuk ditubuhku. Bau aroma rumah sakit menyengat hidungku. Serta bau anyir darah yang mulai mengering membuatku ingin muntah.

“Sella... Bangun... Aku disini nemenin kamu... Aku udah beli pulsa nih... Katanya kamu mau smsan... Ayo kita smsan...”

“Sella... Kamu kan udah janji mau nemenin aku kerumah Alin... Kapan kita pergi kesana... Aku udah kangen banget sama Alin. Kamu bangun donk... Temenin aku...”

“Sella... Kamu katanya pengen jalan-jalan ke Cilacap... Katanya kangen sama Adhitya... Katanya pengen ketemu Adhitya... Ini Adhitya sekarang udah disini... Coba buka mata kamu... Adhitya udah dateng...”

“Sella... Bangun...!!!”

Isak suara Tio terdengar samar-samar ditelingaku. Keheningan menyertai kamar Cempaka No.4 itu.

Tio membuatku terbangun dengan isak tangisnya. Koma panjang yang membuat lelap tidurku selama beberapa hari telah menusuk saraf-saraf otakku. Terasa samar mata ini mulai kupaksakan untuk terbuka. Tapi, siapakah seseorang yang ada disampingku ini? Siapa mereka…?

* * * * * * *

Kadang aku berfikir…

Begitu sakit hati ini selalu melihat dia bersama wanita itu. Entah wanita keberapa dalam hitunganku yang pernah dekat dengannya. Begitu luka menyobek-nyobek perasaan ini ketika ku tau bahwa Adhitya menjalin cinta dengannya. Hancurlah cinta yang kuperjuangkan selama ini. Begitu kusadari dari lisan Adhitya bahwa selama ini dia hanya mempermainkanku, dia hanya iseng padaku, dia meyakinkan aku bahwa ia takkan pernah kembali padaku, begitu aku merasa Adhitya benar-benar menghancurkan hidupku. Kenapa ia tega melakukan semua ini padaku ?

Adhitya mengajarkan aku arti sebuah cinta. Adhitya mengajarkan aku arti sebuah hidup. Adhitya mengajarkan aku arti sebuah kebahagiaan. Adhitya mengajarkan aku arti sebuah kebencian.

Aku selalu melihat Adhitya. Dari ujung mataku, aku selalu membayangkan, dia dulu selalu bersamaku. Setiap saat aku melihat Adhitya bersamanya, seolah aku melihat diriku sendiri sedang bersama Adhitya.

Bunuh diri ? Apakah cara yang tepat untuk menyelesaikan segala masalah ? Agar tidak ada lagi beban yang menguras otakku. Tapi, jika aku bunuh diri, apakah dia akan peduli ? Jika aku bunuh diri, apakah dia akan menangisi kematianku ? Jika aku bunuh diri, apakah dia akan menyesali segala perbuatan yang dilakukannya untukku ? Mungkin juga tidak !

Hari ini aku ingin sekali mengakhiri hidupku. Benar-benar ingin aku lakukan. Tapi, kembali aku tersadar, bergunakah apa yang aku lakukan ini. Aku hanya kehilangan seorang Adhitya. Jikalau aku mati, berapa banyak orang yang mencintaiku yang akan kehilangan diriku. Mama, Kakakku, sahabat-sahabatku, dan mungkin masih banyak lagi.

* * * * * * *

Ketakutan selalu menghantuiku. Ketakutan akan kehilangan Adhitya untuk selamanya. Namun, sebuah kekuatan meyakinkan aku. Bahwa aku takkan pernah kehilangan Adhitya, karena ia akan tetap hidup didalam hatiku. Sebuah ruang akan selalu kubukakan untuk kehadiran Adhitya. Entah sampai kapan, yang mungkin suatu saat aku akan menutup pintu tersebut.

Tersentak ku terjaga dari lamunanku. Ya Tuhan, selama ini aku sealu berfikiran buruk tentang diriku. Mengharapkan sebuah penyakit datang menyerangku. Mengharapkan kecelakaan terjadi pada diriku. Mengharapkan kematian melandaku. Yang tanpa kusadari bahwa aku tak bernasib seburuk yang kufikirkan. Aku selalu mengira Tuhan tidak adil untukku. Memberikanku penderitaan seperti ini. Namun tidak ! Tuhan masih sayang padaku. Aku bukanlah orang yang paling menderita didunia ini. Masih banyak orang yang lebih menderita dibandingkan aku.

Kembali ku mengusap air mataku. Memberikan semangat pada diriku sendiri. Teringat ku akan kedua sahabat terbaikku. Sahabat yang mungkin selama ini tak pernah kuhiraukan.

Fitri Riyadiana, seorang sahabat terbaik dan terdekatku. Aku baru tersadar apa yang terjadi padanya. Perasaan bersalah menghujam diriku. Sudah hampir 5 bulan ini ia berjuang keras melawan sakit dikepalanya karena tumor otak. Selama ia 2 bulan di Purwokerto, aku selalu menjaga dan menemaninya. Mengantarkan dan menjemput ia kuliah. Hingga akhirnya ia pulang ke kampung halamannya entah untuk pengobatannya berapa lama.

Aku rindu padanya. Seandainya ia ada disini, pasti aku sudah menceritakan keluh kesahku tentang Adhitya padanya. Namun, ia tak ada. Sedangkan Rina, sahabatku yang satu lagi sedang sibuk dengan kekasihnya. Aku harus bercerita pada siapa ?

Ya Tuhan, seharusnya aku memberikan semangat untuk Fitri. Bukannya malah mau mengakhiri hidup. Harusnya aku malu padanya. Dia berjuang keras untuk hidup. Aku malah berjuang keras untuk mati. Astaghfirullah…

Tuhan, seandainya saja aku bisa menukarkan kehidupanku dengan kehidupan Fitri, mungkin aku akan rela. Tapi, apa bisa aku melakukan semua itu. Semua ini sudah takdir-Mu. Atas kuasa-Mu, Ya Robbi.

“Ya Tuhan, aku telah kehilangan Adhitya, orang yang aku cintai. Jangan biarkan aku juga kehilangan Fitri, sahabat yang aku sayangi. Jangan ambil mereka Tuhan..” Lirihku dalam hati.

* * * * * * *

Diantara kepedihan hatiku, saat aku ingin bunuh diri, banyak orang yang melarangku. Mereka meyakinkan aku dan memberikanku semangat. Tio dan mereka semua sahabat-sahabatku, memberikanku ketegaran hidup. Mengajari aku tentang keikhlasan cinta. Keikhlasan cinta untuk tidak memaksakan ego ingin memiliki. Keikhlasan cinta untuk memberikan kebahagiaan untuk orang yang dicintai walaupun menyakitkan hati.

Handphone dalam saku celanaku bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Kupandang cukup lama layar handphone tersebut. “Nomor siapa yah..” Bisikku dalam hati heran.

Ku angkat telepon itu, tenyata dari Rina, sahabatku yang satu lagi, selain Fitri. Dulu sejak awal perkuliahan sampe setahun lebih, kita selalu bersama-sama bertiga. Kita udah kaya roda becak, ga bisa dipisahin. Tak ada rahasia diantara kita. Kita selalu bermain bersama. Ngerjain tugas bersama, bercanda, dan selalu sama-sama. Kebersamaan kita mulai renggang, disaat aku pacaran dengan Adhitya. Keseharianku selalu tertuju untuk Adhitya dan selalu bersama Adhitya. Dan Fitri lebih menyibukkan dirinya dengan kekasih baru dan mantannya. Sedangkan Rina, tak ada cerita yang bisa ku ungkapkan. Disaat aku dan Fitri bahagia, Rina hanya sendiri.

Aku putus dengan Adhitya. Fitri mendapatkan musibah, bahwa Ayahandanya meninggal dunia. Aku masih dilanda kesedihan akan kehilangan Adhitya. Fitri mengalami sakit parah. Sedangkan Rina, mendapatkan kebahagian yang selama ini mencarinya. Rina balikan lagi sama mantan pacarnya dulu. Dan ia seakan sibuk dengan urusannya sendiri.

Aku masih menggenggam teleponku. Mendengarkan cerita Rina dari ujung seberang. Hingga telingaku terasa panas, aku masih setia mendengarkan kisahnya. Tersentak kaget, aku sungguh tak pernah menyangka akan semua ini. Dia berantem sama pacarnya. Dan ia berkata “ingin bunuh diri”, karena tak kuat dengan semua masalah yang menerimanya.

Baru beberapa hari yang lalu, aku ingin bunuh diri. Tapi sekarang, aku mendengarkan sahabatku ingin bunuh diri. Sungguh menyakitkan. Ternyata gak enak yah denger orang mau bunuh diri...? Aku kembali menyadari satu hal. Bagaimana perasaan mereka, orang-orang yang dengar keluh kesahku kalo aku ingin bunuh diri.

Hu`uh… Tuhan, masalah apalagi ini. Apa yang kau limpahkan padaku. Apakah Kau ingin meyadari aku bahwa aku harus belajar untuk menjalani dan menghadapi semua masalah ini. Apakah Kau ingin memberikan aku ketegaran hidup.

Siapa yang harus kupilih Tuhan ? Siapa yang harus kupikirkan ? Memperjuangkan cintaku untuk Adhitya yang telah melukaiku ? Memberikan semangat hidup serta doa untuk Fitri yang sedang sakit ? Atau membantu Rina menyelesaikan masalahnya yang rumit serta memberikannya semangat ? Siapa yang harus aku dahulukan Tuhan…?

* * * * * * *

Cerpen ini kupersembahkan untuk empat orang tokoh yang sangat aku sayangi…

Fitri, Rina, Adhitya, Tio..

Purwokerto, 04 Maret 2008

Dian Putri Prameswari


** Adhitya : bukan nama sebenarnya..

** Tio : bukan nama sebenarnya


Cerpen`Quw tentang DIA dahuLu..

SEPENGGAL KISAH LEMBARAN BARU

By : Dayend

Langit malam telah datang menghampiriku. Kabut malampun telah datang menemaniku. Sepi, sunyi hatiku, diselimuti dinginnya malam ini. Pikiranku bergelayutkan perasaan bimbang. Aku bingung apa yang harus aku lakukan?

Aku menghempaskan tubuh diatas kasur setelah selesai mengerjakan salat Isya. Kulirik jam beker yang nangkring diatas meja belajarku. Jam setengah 10 malam. Aku ingin menulis. Tapi aku ngantuk sekali. Kupaksakan mataku tak terpejam. Aku ingin menuliskan sebuah puisi. Kuambil buku diariku. Aku ingin melimpahkan segala perasaanku dalam selembar kertas yang kusam ini. Aku mulai menulis dan terus menulis. Melaui goresan pena disudut lembaran, kuteruskan untuk menulis. Kulukiskan kata-kata yang tersembunyi didalam hatiku.

Kamar`quw, 18 Oktober 2006

Aku mencari bayanganmu dalam gelap malam.

Saat rembulan yang tak kunjung muncul.

Ataukah malam yang bergerak lambat?

Aku mencari namamu dalam setiap pikirku.

Sebait kata yang telah memberiku harapan.

Menjanjikan cinta tuk jadi kenyataan.

Aku mencari hatimu dengan cintaku.

Yang telah singgah dan bermain-main dalam bayangan hari-hariku.

Membuat aku terpesona atas lisan cinta yang telah kau lontarkan.

”Tut-tut tut-tut...” Aku terhentak kaget mendengar suara handphoneku berbunyi. Lamunanku buyar. ”Padahal lagi asik-asik ngelamun juga, siapa sih yang sms malem-malem.” Ngomel ku dalam hati. Kulirik kembali jam bekerku. ”Wew, udah jam 11 malem.” Kuambil HPku yang masih tersimpan didalam tasku. Ada sms dari Putra. Rasa kesalku berganti riang. Dia mengucapkan met tidur untukku. Aku jadi cengar-cengir sendiri.

Dia datang menaburkan benih-benih cintanya yang ia tanamkan dalam pohon hatiku. Akarnya sudah menjalar panjang. Menerobos hingga perut bumi. Rantingnya semakin banyak. Daunnya menjadi lebat. Menjadi semakin bertambah tiap harinya. Seperti perasaan cintaku yang telah ia tanamkan dilubuk hatiku ini. Tiap hari akan menjadi semakin bertambah. Jikalau dirawat dengan baik dan penuh cinta.

Satu bulan sudah aku jadian dengan Putra. Dalam waktu satu bulan itu, ia sudah cukup membuat aku jatuh cinta. Semua kasih sayang, perhatian dan cinta yang ia berikan sudah cukup membuat aku bahagia. Dia memberikan semua impianku, yang tak pernah aku dapatkan dari pacar-pacarku sebelumnya.

* * * * * * *

Saat tergabung dalam kepanitiaan makrab, aku sebagai sekretaris umum panitia diwajibkan mengenal seluruh panitia. Aku memperhatikan cowok itu. Akhir-akhir ini aku sering melihatnya dalam kepanitiaan. Tapi aku tidak mengenalnya. Sepertinya sih baru masuk jadi panitia. Tapi ada yang aku herankan darinya. Dia hanya dekat dengan 1 orang panitia cewek, namanya Ani. Dimanapun ada cewek itu pasti ada dia. Emang ada hubungan apa sih antara Ani dan dia. Yang kutahu, Ani kan udah punya pacar.

Aku melihatnya dengan angkuh. Wah, anaknya kayanya sombong banget. Gimana caranya aku mau nyomblangin cowok itu dengan temanku. Masa temenku ada yang naksir cowok kaya gitu. Kata temenku itu sih, dia anaknya baik kok. Tapi diantara semua panitia cowok yang sering aku lihat dan temui, aku belum pernah ngobrol sama dia. Kalo ketemu ajah gak pernah senyum, apalagi nyapa...

Aku dan temanku sering berbagi cerita. Dia sering menceritakan sosok cowok itu. Sedangkan aku sendiri, lebih suka menceritakan tentang Andi, seorang panitia yang aku sukai.

Waktu sudah menunjukkan jam setengah 9 malam. Sudah seharian ini aku di kampus. Ngapain? Kuliah? Ya nggak donk, ini kan masih liburan semester. Hehehe. Aku masih di sibukkan dengan setumpuk kertas-kertas pendaftaran mahasiswa baru yang ikut kegiatan makrab. Sudah seharian ini aku duduk di depan komputer sekre. Merekap ulang data-data mahasiswa baru. Ya beginilah nasib sekretaris tunggal. Dalam hati kadang aku sering mengumpat, “Sialan tuh ketua panitianya, masa gw gak dikasih staff. Kalo bukan Kk angkat gw, udah gw …(sensor) tuh ketua .”

Aku masih menunggu Arie untuk mengantarku pulang ke kost-kostan. Gak tau tuh si Arie masih betah amat ngobrol di sekre.

”Arie, ayo donk katanya mau nganterin aku pulang?” Tanyaku lagi, setelah dari tadi aku ngajakin Arie pulang tapi jawabnya hanya, ”Ntar dulu Sel...”

Tapi tiba-tiba Arie melimpahkannya kepada orang lain. ”Oh iya, pulang sama Putra ajah ya, kan satu jurusan, kost-kostannya deket kan?”

Bungkaman suara yang tak pernah ku dengar itu akhirnya terucap juga dari mulutnya. ”Emang kamu kostnya dimana?”, tanya Putra.

”Di jalan Kenanga.” Jawabku.

”Oh, mau pulang sekarang apa?” Tanyanya lagi.

”Iyah, yuk...” Jawabku lagi.

Tak banyak obrolan antara kita dalam perjalanan pulang ke kostku. Yang aku bicarakan dengannya hanya soal kost-kostan. Ternyata kostnya deket sama kostku. Sama-sama di jalan Kenanga. Cuman beda beberapa rumah ajah. Tapi, itu kostnya dia yg dulu. Sekarang udah pindah kost didaerah Sumampir.

* * * * * * *

Hari demi hari kulalui. Sedikit demi sedikit waktu berjalan, telah terjalin cerita antara aku dan Putra. Kita mulai akrab dan selalu ada canda Sellatara kita. Disetiap jejak langkah kakiku. Alunan hembusan nafasku. Degup jantungku yang berdetak. Bayangannya tak pernah lepas dari setiap ingatanku. Selalu hadir menghantui kehidupanku. Selalu menemani aku berjalan. Satu demi satu langkah, mengikuti kemanapun aku pergi. Dimanapun aku berada. Dia selalu menjadi bayanganku.

Aku suka berteman dengan Putra. Abis, dia orangnya baik sih dan bisa bikin hari-hariku ceria. Ternyata dia emang gak sombong seperti anggapanku dulu. Dia mudah bergaul dengan siapapun. Tapi, aku tambah heran lagi. Kenapa ia jadi gak deket sama Ani. Bahkan, aku tak pernah melihat mereka berduaan ataupun hanya sekedar ngobrol.

Hidup memang sulit dipahami. Selalu penuh dengan lika-liku. Berubah-ubah dari zaman lalu ke zaman yang akan datang. Aku menghargai hidupku saat ini. Kubuka lembaran baru yang kuisi dengan suka duka kehidupan. Kulupakan semua masa laluku, tentang Rahim, Yudhan, Mas Dias, dan Hendra (bujubune, banyak amat mantannya) J. Aku ingin menyongsong masa depanku. Tapi sama siapa ya? Sama Andi atau Putra?

Sepertinya kesukaanku pada Andi makin memuncak tiap harinya. Walaupun sayang harapanku tak terbalaskan. Tetapi aku tetap bisa berteman dengan Andi. Karena rahasia hati Sella tidak pernah terbongkar. Dan Andi pun tak pernah tahu kalau Sella menyukainya. Atau mungkin...Andi tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Entahlah...

Sedangkan kedekatanku pada Putra pun makin memuncak tiap harinya. Ada kebahagiaan tersendiri bila Sella sedang bersamanya. Dimanapun Sella berada, disitu pasti selalu ada Putra.

Apa yang Sella rasakan? Memudarnya harapan tentang Andi dan menghilangnya kepergian Hendra telah membuka hatinya untuk orang lain. Pantaskah semua ini dirasakannya?

* * * * * *

Hari ini ulang tahunku. Seharusnya dihari yang spesial ini, aku merasa bahagia. Tapi, senin pagi ini aku malas sekali beranjak dari tempat tidurku. Padahal riuk picuh anak-anak kost sudah terdengar kicauan senam mulutnya. ”Uh... berisik banget sih.” Kesalku dalam hati. Kutarik kembali selimut untuk menutupi seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi ternyata, mata ini sudah tidak mau kompromi lagi untuk dipejamkan.

Aku tersentak kaget. Teringat suatu hal kalau aku ada janji untuk pergi dengan Putra hari ini. Putra mengajakku jalan-jalan. Tapi tidak seperti biasanya. Biasanya Putra hanya mengajakku jalan-jalan muter-muter kota dengan sepeda motornya. Tapi kali ini berbeda. Dia mengajakku ke taman kampus. Hi... mungkin biar lebih romantis kali yee...

Sella langsung loncat dari kasur dan menyerbu ke kamar mandi. Tak dihiraukannya anak-anak kost yang pada bengong melihat tingkahnya yang udah mirip kaya maling dikejar warga se-RT. Gubrak! Pintu kamar mandi di banting. Pikir anak-anak di kost yang lagi pada asik menyantap sarapan paginya, ”Kenapa tuh si Sella? Kumatnya kambuh lagi apa? Kesetrum listrik ribuan watt kali? Belom dikasih obat kali? Gila kali?” dan lain-lain macam-macam cercaan muncul dari mulut anak-anak kost.

Sella disibukkan dengan berbagai macam kostum. Disemprotkannya parfum keseluruh tubuhnya. Hmm...wangi! Sella sudah siap-siap berangkat. Aku masih gelisah menanti handphoneku berbunyi. Terlintas kembali tanggapan Kakakku beberapa waktu yang lalu.

”Kakak gak suka kalo kamu pacaran.” Ucap Kakakku dengan tegasnya. ”Ngapain sih pake pacaran-pacaran segala. Pacaran tuh dosa. Kalo kamu mau langsung nikah ajah.” Nasihat Kakakku yang panjang lebar tak ada henti-hentinya. ”Kakak rela kok kalo kamu nikah duluan daripada Kakak.”

Semangatku untuk bertemu dengan Putra jadi ”down”, karena teringat pesan-pesan Kakakku yang telah menyayat hatiku. Apa yang harus aku lakukan. Sella sudah terlalu dekat dengan Putra. Sella merasa, Putra akan memintaku jadi pacarnya hari ini. Dan untuk menolak dan menghindari Putra, Sella sudah merasa tidak sanggup lagi. Sangat sulit untuk dilakukan. Karena jujur saja, Sella merasa senang jika berada bersama Putra. Walaupun perasaan cinta belum tumbuh dihatiku. Tapi aku yakin, suatu saat aku pasti bisa mencintai Putra.

Banyak yang kita bicarakan seharian ini. Semua cerita tentang aku dan semua cerita tentang Putra, bahkan tentang keluarga, teman dan mantan-mantan pacar. Kita berbagi cerita untuk lebih saling mengenal lebih satu sama lain. Ditaman kampus, kita duduk di dekat kolam sambil melihat dua anak kecil yang sedang bermain-main di pinggir kolam.

Sehembus angin yang bertiup menyentuh napasku hingga merasuk kedalam hatiku. Burung-burung yang terbang bebas melintasi bentangan langit biru. Seberkas cahaya rembulan menyinari indahnya malam. Ada sebuah kecemasan di dalam batin Sella.

Sesampainya didepan pintu kost Sella, Putra menunjukkan sesuatu pada Sella. Dia membawa sebuah cokelat Cadburry dan sebuah permen Chupa Chups. Aku suka kedua-duanya dan tanpa dosa langsung kuambil kedua benda itu dari tangan Putra.

”Wah...buat aku yah?” Pinta Sella dengan manjanya.

Putra seperti orang kebingungan lalu menjawab, ”Ya udah deh.”

”Asik...makasih ya, Put.” Tawa Sella dengan riangnya karena mendapatkan dua-duanya.

Tapi dengan santai, Putra bicara pada Sella. ”Padahal aku mau nyuruh kamu milih salah satu.”

”Milih apa?” Bingung Sella.

”Aku suka sama kamu, Sel. Aku mau kamu jadi pacarku. Kalo kamu nerima aku, kamu milih permen itu. Tapi kalo kamu nolak aku, kamu pilih cokelat itu.” Putra menjelaskan dengan raut wajah yang gugup.

Aku melongo beberapa saat, tetapi beberapa detik kemudian aku pun jadi ikut-ikutan gugup. Aku sadar Putra sedang menunggu jawabanku. Tapi aku mencoba semampuku untuk membuka mulut walaupun rasanya mulut ini seperti terkunci dari dalam.

”Kamu kan tahu gimana Kakakku, Put.” Bicaraku meyakinkan Putra.

”Jawaban ada ditangan kamu, Sel.” Putra menatapku tanpa sedikitpun berkedip.

”Aku gak tahu...Aku gak bisa...” Aku membalikkan badan membelakangi Putra. Aku takut dengan tatapannya yang membuatku iba. Sesaat tercipta hening diantara kita.

Putra memegang kedua pundakku. Ia mendekatkan bibirnya didekat telingaku. Dengan agak berbisik, dia berkata ”Aku akan menunggu sampai kapanpun.”

Malam hari ini menjadi saksi bisu bahwa awal cerita cinta baru saja akan dimulai. Aku akan membuka lembaran baru bersama Putra. Aku berharap, cinta yang Putra berikan dapat membuatku pun belajar mencintainya. Ya..., aku akan belajar. Aku akan berusaha. Lalu, bagaimana dengan Kakakku?

* * * * * * *

Hhh...kuhela napas berkali-kali. Rasa lelah kuhempaskan. Udara malam ini mulai masuk melalui celah-celah pintu dan ventilasi kamarku. Kupandang sebuah mawar merah didalam kristal yang terpajang dalam meja belajarku. Mawar merah kristal pemberian dari Putra. Didalamnya terukir sebuah kata ”I Love You”.

”I Love You Too,” bisikku dalam hati.

Kugenggam mawar merah kristal itu dan kudekap erat-erat untuk menemani aku tidur malam ini. Aku sudah merasa ngantuk. Kubiarkan buku diari masih tergeletak di meja belajarku. Segera ku beranjak ke kasur sambil membawa mawar merah kristalku.

Masih terbayang kenangan bersamanya hari ini. Satu bulan sudah aku jaSella dengan Putra. Walaupun aku tak tahu apakah ”bingkai pacaran” melekat pada diri kami. Sedangkan sebulan yang lalu aku menolaknya. Tapi aku tak butuh bingkai itu. Aku tak butuh status itu. Yang aku butuhkan adalah saling menyayangi, saling mencintai. Dan kita sudah berjanji untuk setia selamanya.

Lelapku terhanyut alam mimpi... Zzz...

* * * * * * *

Purwokerto, 18 Oktober 2008

Dian Putri Prameswari