Seminggu setelah Lauren, puteri kami lahir, Bonnie istri saya dan saya lelah sekali. Setaip malam Lauren terus-menerus membuat kami terjaga. Sewaktu melahirkan, Bonnie mengalami luka persalinan dan harus minum obat penghilang rasa sakit. Ia hampir tak dapat berjalan. Setelah lima hari tinggal di rumah untuk memberikan pertolongan, saya kembali bekerja. Ia tampaknya sudah lebih baik.
Sementara saya tidak di rumah, ia kehabisan pil penghilang rasa sakit. Bukannya menelepon saya ke kantor, ia meminta salah seorang saudara saya yang sedang berkunjung untuk membelikan pil. Tetapi saudara saya yang tidak pulang dengan pil-pil itu. Akhirnya Bonnie menghabiskan seluruh hari itu dalam kesakitan, sambil merawat bayi yang baru lahir.
Saya sama sekali tidak tahu bahwa harinya begitu tidak menyenangkan. Ketika saya pulang ke rumah, ia sangat marah. Saya keliru menafsirkan penyebab kemarahan itu dan mengira bahwa ia menyalahkan saya.
Ia berkata, “Aku kesakitan sepanjang hari. Aku kehabisan pil. Aku menggelepar di tempat tidur dan tak ada yang peduli!”
Saya berkata untuk membela diri, “Kenapa kau tidak meneleponku?”
Ia berkata, “Aku meminta kakakmu, tapi dia lupa! Aku menunggunya sepanjang hari. Aku mesti bagaimana? Aku hampir tak bisa berjalan. Aku merasa begitu dilupakan!”
Pada saat itu saya marah besar. Sekring saya begitu pendek hari itu. Saya marah besar bahwa ia menyalahkan saya, padahal saya tidak tahu ia kesakitan. Setelah saling mengumpat dengan kata-kata kasar, saya pergi ke pintu. Saya lelah sekali, mudah marah, dan telah jenuh mendengarnya. Kami berdua telah mencapai batas-batas kami.
Kemudian sesuatu terjadi – seuatu yang akan mengubah hidup saya.
Bonnie berkata, “Stop, jangan pergi. Aku sangat membutuhkanmu. Aku kesakitan. Berhari-hari aku tak bisa tidur. Tolong dengarkan aku.”
Saya berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Ia berkata, “John Gray, kau cuma sahabat di kala senang! Sepanjang aku bermanis-manis, menjadi Bonnie yang penuh kasih saying, kau mau mendampingiku, tapi waktu aku tidak seperti itu, kau langsung ingin pergi.”
Kemudian ia berhenti, matanya berkaca-kaca. Nadanya berubah ketida ia berkata, “Sekarang ini aku kesakitan. Aku tak punya apapun untuk diberikan. Inilah saatnya aku sangat membutuhkanmu. Tolonglah, mendekatlah kemari dan peluklah aku. Kau tak usah mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin kau peluk. Kumohon jangan pergi.”
Saya menghampirinya dan memeluknya dalam diam. Ia menangis dalam pelukan saya. Setelah beberapa menit, ia mengucapkan terima kasih karena saya tidak pergi. Ia mengatakan pada saya bahwa ia Cuma ingin merasakan pelukan saya.
Pada saat itu saya mulai menyadari makna cinta sesungguhnya – cinta tanpa syarat. Selama ini saya mengganggap diri saya orang yang penuh cinta. Tetapi ia benar. Saya adalah sahabat di masa senang. Sepanjang ia bahagia dan menyenangkan, saya membalas cintanya. Tetapi kalau ia sedang tidak bahagia atau marah, saya merasa disalahkan dan kemudian melawan dan menjauhkan diri.
Dahulu kala, orang Mars berjumpa dengan orang Venus. Mereka jatuh cinta dan menjalin hubungan yang membahagiakan karena mereka saling menghormati dan menerima perbedaan-perbedaan mereka. Kemudian mereka tiba di Bumi dan mulai menderita amnesia. Mereka lupa bahwa mereka berasal dari planet yang berlainan.
Dengan kiasan ini sebagai ilustrasi pertikaian yang umum terjadi antara pria dengan wanita. Dr. John Gray menjelaskan munculnya perbedaan-perbedaan di antara kedua jenis kelamin itu dan menganggu terciptanya hubungan cinta yang saling melengkapi. Berdasarkan sukses memberi bimbingan selama bertahun-tahun terhadap pasangan suami-istri dan perorangan, ia memberi nasihat mengenai cara mengatasi perbedaan dalam gaya komunikasi, kebutuhan-kebutuhan emosional, dan cara tingkah laku untuk memajukan suatu pemahaman yang lebih besar di antara masing-masing pasangan.
Men Are from Mars, Women Are from Venus merupakan sarana untuk mengembangkan hubungan yang lebih mendalam dan lebih memuaskan.



0 comments:
Post a Comment